Kodim 0809/Kediri Bersama Forum Lintas Sektor Gelar Rapat Kesiapsiagaan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan

KEDIRI, Terkait dengan bencana di wilayah Kabupaten Kediri, Pasiops Kodim 0809/Kediri a.n. Kapten Inf Nanang Mashuri bersama Pemerintah Forum Lintas Sektor Kabupaten Kediri menggelar Rapat dalam rangka kesiap siagaan penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Rapat yang digelar di Ruang Grahadi Pemerintah Kabupaten Kediri Kamis (25/8/2022), dihadiri oleh sekitar 35 orang dari Lintas Sektor se-Kabupaten Kediri dan dipimpin langsung oleh Sekda Kabupaten Kediri bapak Dede Sudjana.

Turut hadir Sekjen Forum PRB Provinsi Jatim Catur Sudarmanto, Kalaska BPBD Kabupaten Kediri Syaifullah, Pasiops Kodim 0809/Kediri Kapten Inf Nanang Mashuri, Kabagops Polres Kediri Kompol Mansur, Dinsos Kabupaten Kediri Didik Suwono, Dishub Kabupaten Kediri, Bakesbangpol Kab Kediri, Satpol PP, DLH, Dinkes, Dinas Kehutanan, Dinas PUPR, Kominfo, Dispendukcapil, Bapeda, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan, Kejaksaan Negeri, Bank BRI, Bank Jatim, Bank Daerah, Bank BI dan Telkom.

Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri Bapak Dede Sudjana menyampaikan, “Akan melibatkan semua komponen terkait dengan kebakaran hutan, sempat kemarin pernah terjadi di kawasan Wilis dan harus di antisipasi, dirinya juga meminta semua rekan di wilayah harus selalu monitoring, Kita harus mendeteksi air bersih terkait persediaan mengantisipasi kebakaran,” ungkapnya.

Kalaksa BPBD Kabupaten Kediri bapak Syaifuddin juga menyampaikan, “Bahwa Bencana adalah urusan bersama semua yang ada di wilayah kabupaten Kediri, Alhamdulillah 2 tahun ini Kabupaten Kediri tidak ada kebakaran hutan, Kita ketahui secara kuantitas air daerah berpotensi kebakaran hutan sangat minim dan Bupati Kediri sudah menyiapkan persediaan air bersih, kami terus berusaha bagaimana meningkatkan peran aktif masyarakat di Lereng Kelud dan Wilis, serta menelusuri titik – titik yang rawan terjadinya suatu kebakaran, “Kami akan membuat SOP dan kami share di grup Lintas Sektor, kami dengan SKPD lain menyusun rencana terkait prediksi kebutuhan yang harus kita tangani saat terjadi bencana kebakaran,” ungkapnya.

Sementara itu, Pasiops Kodim 0809/Kediri Kapten Inf Nanang Mashuri dalam paparannya juga menyampaikan, “Terkait dengan bencana di wilayah Kabupaten Kediri, kami selaku Komando Kewilayahan mengacu kepada Pimpinan tingkat atas, kemarin telah dilaksanakan Rakor di Kota masalah kebakaran harus disosialisasikan, kita harus adakan pembentuk organisasi dan memetakan wilayah yang dianggap rawan kebakaran hutan dan lahan, rata-rata penyelidikan kebakaran kebanyakan di sebabkan oleh manusianya itu sendiri,” jelasnya.

“Puncak titik musim kemarau adalah pada bulan Agustus, dan kita harus mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan serta lahan, Pemetaan wilayah terkait dengan kerawanan – kerawanan kebakaran hutan dan lahan, Mohon koordinasi dengan wilayah masing – masing terkait dengan kerawanan kebakaran hutan dan lahan tersebut, Saran kami kepada BPBD untuk membuat organisasi untuk mengantisipasi dari pada kebakaran yang terjadi di wilayahnya,

Lebih lanjut Pasiops Kodim 0809/Kediri juga memaparkan, “Bahwa Kabupaten Kediri sangat luas kita siapkan alat pemadam kebakaran untuk antisipasi kebakaran hutan, BMKG akan memantau terjadinya suatu kebakaran di suatu tempat, kami siap mendengarkan pelaksanaan kegiatan untuk mengantisipasi kebakaran hutan di Kabupaten maupun Kota Kediri,

“Kita harus mempunyai agen – agen informasi di setiap wilayah untuk menginformasikan secara cepat kejadian suatu kebakaran agar penanganannya secara cepat, Kalau bisa Mobil Damkar tidak standby di kantor saja tetapi bisa ditempatkan di titik titik yang rawan terjadinya suatu kebakaran, dengan tujuan mempercepat Prosesi pemadaman,” tuturnya.

Kabagops Polres Kediri Kompol Mansur dalam kesempatannya juga menyampaikan, “Adanya Rakor Forum Lintas Sektor seperti ini sangat baik dalam rangka kesiapan kita dalam pencegahan bencana kebakaran dan sudah tercapai 80%.

Menurutnya, Kebakaran ada bermacam macam, antara lain : Kebakaran kecil seperti yang diakibatkan oleh kompor meledak, puntung rokok. Kebakaran menengah seperti kebakaran rumah, pasar. Dan kebakaran besar seperti dilahan – lahan. Kalau perlu kita membuat simulasi penanganan penanggulangan bencana kebakaran, kita perlu membuat Posko Kebakaran dengan syarat-syarat yang sudah ditentukan, seperti tempat yang luas dan mudah diakses dengan kendaraan.

Kita harus secara terus menerus memberikan sosialisasi kepada masyarakat terkait bencana kebakaran dan cara penanganannya, cara mengatasi kebakaran bisa dengan menggunakan : Ampar, karung goni, dll,” pungkasnya.

Sekretaris Jenderal Forum PRB Provinsi Jatim bapak Catur Sudarmanto juga menyampaikan, “Kita harus membangun sinergi dengan berbagai pihak terkait dengan kebakaran hutan dan lahan, awal dibentuknya Lintas Sektor adalah yaitu sekitar tahun 2013, Lintas sektor harus bertanggung jawab terkait dengan kebakaran hutan dan lahan, masing – masing pihak dinas atau lembaga mempunyai tugas masing-masing terkait dengan kebakaran hutan dan lahan

Penganan bencana melibatkan pemerintah masyarakat (Omas, LSM) dan media, Kita mencermati bahwa kebakaran hutan di kabupaten Kediri berada di sektor timur (Medowo, Kandangan) dan untuk sektor barat di lereng Wilis, Kapasitas yang dimiliki kabupaten berpusat di Kota ini akan memperlambat penanganannya karena Kebakaran yang sering terjadi di wilayah Kabupaten.

Forum lintas Sektor sangat berdampak positif karena masalah banyak yang terselesaikan karena terbangun komunikasi “Kami berharap komunikasi dan koordinasi tetap terbangun di lintas sektor, selama ini fokus kegiatan banyak pada tanggap daruratnya saja belum memperhatikan kepulihan akibat dampak bencana dan ini dapat menyebabkan dampak yang baru dimasyarakat, kita matangkan persiapan kita dalam penanggulangan bencana melihat saat maupun pasca bencana, kita harus memberikan perlindungan Masyarakat pasca bencana,” terangnya.

Lebih lanjut Catur Sudarmanto menjelaskan, “Di Kabupaten Kediri ada 8 potensi bencana, Tujuan kita menyelaraskan perundangan-undangan yang ada agar tidak terjadi tumpang tindih, contoh penguatan desa, Desa Siaga dan semua itu ada payung hukumnya, kita perlu bersinergi antar pihak supaya koordinasi terbangun terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007, Penanggulangan Bencana bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada mesyarakat dari ancaman bencana, menyalaraskan peraturan perundang-undangan yang sudah, menjamin terselenggaranya penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, terkoordinasi dan menyeluruh, menghargai budaya lokal, membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta, mendorong semangat gotong royong, kesetiakawanan dan kedermawanan.

Menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, Kerja sama Pentahelix melibatkan kerja sama dari lima elemen masyarakat, yakni pemerintah, kalangan pengusaha, komunitas, media dan akademisi.

Masing – masing elemen memberikan sumbangsihnya dalam pemecahan masalah secara kolaboratif, dengan mengesampingkan perbedaan-perbedaan, Konsep Pentahelix juga dinilai dapat mengurangi kecenderungan masyarakat untuk terlalu bergantung pada pemerintah dalam menghadapi persoalan di sekitar mereka, konsep Pentahelix atau Multipihak dimana unsur pemerintah, akademisi, badan atau pelaku usaha, masyarakat atau komunitas dan media bersatu padu berkoordinasi serta berkomitmen untuk mengembangkan Inovasi pengetahuan yang memiliki potensi untuk dikapitalisasi atau ditransformasi menjadi produk maupun jasa yang bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Dinas Perhutani Kabupaten Kediri bapak Beni juga menyampaikan, “Puncak musim kemarau berada di bulan Agustus dan September, Kebakaran hutan di wilayah Kabupaten / Kota yang terbesar di Wilis, terkait dengan penanganan kebakaran hutan kami sudah melakukan upaya preventif, Hampir 99% kebakaran hutan diakibatkan faktor manusia, kami di setiap desa ada lembaga Desa Hutan

Kami sudah mensosialisasikan kepada masyarakat agar tidak membakar sisa tanaman / pohon disekitar kawasan hutan, kami setiap hari melakukan monitoring / pemantauan kebakaran dengan Hotspot 8 agar mempercepat penanganan dan setiap hari untuk melaporkan situasi kawasan, untuk wilayah kabupaten / Kota yang rawan di kawasan Gunung Kelud, Wilis dan Klotok.

Kami akan menutup pendakian di wilayah Gunung Kelud, Wilis dan Klotok untuk awal Agustus. Kami minta dukungan, spot dari semua pihak dan ikut membantu mensosialisasikan kepada masyarakat. Terkait dengan kebakaran hutan kami Perhutani sudah membentuk satgas yang melibatkan pihak Desa di Wilayah Hutan,”tuturnya. (Pendim0809)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous post Koramil 0814/09 Kudu Berikan Hadiah Juara Lomba HUT RI Ke 77 di SDN Made
Next post Koramil 0814-08/Plandaan bersinergi dengan Dinas Pertanian dalam sosialisasi Agribisnis